Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.
“Diam tidak selalu berarti menyerah. Kadang, diam adalah cara paling aman untuk menyusun strategi pergi.”
Broken Strings adalah salah satu buku yang tidak pernah kurencanakan untuk kubaca di awal tahun 2026. Kalau bukan karena kekuatan media sosial, mungkin aku tidak akan pernah tahu bahwa buku ini diterbitkan. Bahkan, kisah yang dituliskan Aurelie Moeremans ini sama sekali tidak pernah terbayang akan ada—apalagi dibagikan ke ruang publik.
Awalnya aku ragu untuk mulai membaca. Banyak komentar yang mengatakan tidak sanggup menyelesaikannya. Bahkan sejak halaman awal, penulis sudah memberi peringatan: jika merasa terpicu, pembaca disarankan berhenti dan memberi jeda. Peringatan itu justru membuatku semakin takut.
Review novel Jika Cinta Itu Suci, yang Salah Manusianya tentang cinta yang dipendam terlalu lama, salah paham, dan keberanian untuk jujur.
Cinta yang Sama-sama Ada, Tapi Memilih Diam
Ada jenis cinta yang tidak berisik. Tidak menuntut, tidak memaksa, hanya tinggal—diam-diam—di dalam hati.
Bagaimana rasanya mencintai seseorang, tapi perasaan itu disimpan terlalu rapi? Bukan karena tidak berani, melainkan karena terlalu banyak batas yang ingin dijaga. Terlalu banyak peran yang tidak ingin dilukai. Entah kenapa, cerita seperti ini selalu terasa dekat.
Mungkin karena kita pernah berada di posisi itu. Pernah memilih diam demi terlihat baik-baik saja.
“Di balik sikap memberontak seorang anak, sering kali tersembunyi kebutuhan sederhana: ingin didengar, dipilih, dan tetap dicintai.”
Siapa, sih, yang masih suka baca teenlit sampai sekarang?
Ya aku. Ha-ha.
Padahal, sejak duduk di bangku SMP aku sudah akrab dengan genre ini. Anehnya, meski usia bertambah dan status berubah—bahkan sekarang sudah punya tiga anak—kecintaanku pada teenlit masih bertahan. Mungkin karena teenlit selalu punya cara sederhana tapi jujur untuk membahas luka, kehilangan, dan proses tumbuh yang sering kali kita anggap sepele.
Kali ini aku membaca 3600 Detik karya Charon. Novel ini mengisahkan seorang gadis bernama Sandra, yang tanpa ia sadari sedang berdiri di tengah keluarga yang perlahan retak. Selama ini Sandra merasa hidupnya baik-baik saja. Ia memang tidak terlalu dekat dengan ibunya yang sibuk sebagai wanita karier, tapi hal itu tak pernah menjadi masalah besar baginya. Kehadiran ayah yang hangat dan dekat sudah cukup untuk mengisi ruang-ruang kosong dalam hidupnya. Bahkan ketidakhadiran ibunya di momen-momen penting pun tak pernah ia persoalkan.
“Tempat yang baik tidak hanya memberi pemandangan indah, tapi juga rasa nyaman untuk berlama-lama.”
Menemukan Ruang Bersantai Tanpa Harus Keluar Kota
Kadang aku merasa, yang paling kami butuhkan sebagai keluarga bukan liburan jauh atau itinerary yang padat, tapi waktu untuk benar-benar berhenti sejenak. Duduk tanpa terburu-buru, mengobrol tanpa melihat jam, dan tidur tanpa alarm. Di tengah rutinitas harian, momen seperti itu terasa mewah.
Kami punya kebiasaan kecil saat harus ada tempat untuk (mancing) menenangkan pikiran, suasananya tidak terlalu ramai, dan setiap anggota keluarga bisa menikmati hobinya masing-masing. Ada yang bahagia cukup dengan memancing, ada yang senang berenang, ada juga yang hanya ingin rebahan sambil menikmati pemandangan. Sederhana, tapi itu yang kami cari.
Biasanya, untuk mendapatkan suasana seperti itu, kami memilih pergi sedikit lebih jauh ke luar Kota Balikpapan. Rasanya lebih “dapet” saja tenangnya. Apalagi aku yang sangat menikmati perjalanan darat. Tapi kali ini berbeda. Aku justru menemukan tempat yang mampu menghadirkan rasa liburan tanpa harus pergi jauh dari rumah. Liburan di Balikapan kali ini terasa beda.
Deboekit Riverside Resort di Balikpapan Timur memberi kejutan kecil buatku. Dari suasananya yang tenang, aliran Sungai Manggar yang mengalir pelan, sampai konsep wisatanya yang terasa ramah untuk keluarga. Tempat ini mengajarkan aku satu hal: ternyata, untuk merasa rehat, kita tidak selalu harus pergi jauh. Kadang, yang kita butuhkan hanya tempat yang tepat. Tempat yang tenang, tidak terlalu ramai, dan bisa mengakomodasi hobi masing-masing anggota keluarga.
Tentang cinta, takdir, dan waktu yang tak pernah benar-benar adil
Sebagai tim happy ending garis keras, aku sungguh kesal dengan akhir ceritanya. Bukan semata karena kisah ini tidak berakhir bahagia—tapi karena rasanya… MASIH BISA DILANJUTIN WOY! Serius. Tanganku gatal ingin nyeret penulisnya sambil bilang, “Ini belum selesaiii!”
Pagi Ayub Bahtera jatuh cinta pada seorang gadis bernama Chalanthee. Usia mereka terpaut tiga tahun—Pagi lebih muda. Bagi banyak orang, jarak itu saja sudah cukup untuk meragukan. Ditambah lagi, keduanya hidup dalam ikatan adat istiadat yang begitu kental, yang membuat hubungan ini terasa mustahil sejak awal. Seolah semesta sendiri berkata: jangan.
Tapi sebagai pembaca yang sudah terlanjur sayang, aku cuma bisa bilang: aku mau maksa. T_T
Kadang muncul pikiran yang sunyi: jika seseorang pergi selamanya, apakah ada yang benar-benar merasa kehilangan? Apakah ada yang menyesali hal-hal yang tak pernah terucap?
Menyembuhkan luka bukanlah proses yang cepat. Sebanyak apa pun cinta yang diberikan, trauma tidak serta-merta hilang. Ia membutuhkan waktu—dan kesabaran untuk merawatnya.
Sering muncul pertanyaan… apakah cinta itu masih ada? Apakah ketulusan itu nyata? Atau jangan-jangan semua hanya karena rasa takut kehilangan?
“Ada kalanya, momen paling sederhana justru menjadi pintu untuk cerita yang tak pernah kita duga.”
Terkadang, satu pertanyaan sederhana dari anak-anak bisa membuka pintu kenangan yang sudah lama tertutup rapat. Begitu pula pagi itu, saat Cinta dengan polosnya bertanya soal OSIS—pertanyaan kecil yang tiba-tiba menyeretku kembali ke masa sekolah, ke perpustakaan pengap tempat aku bersembunyi, dan ke mading-mading penuh cerita yang dulu kususun bersama sahabat-sahabatku.
Kadang yang kelihatan menunda, sebenarnya cuma lagi nyiapin diri. Tentang perempuan, pilihan, dan waktu yang nggak harus sama — karena setiap orang punya jalannya sendiri untuk bahagia. 🌷
“Bu, lihat deh. Ini anak Balikpapan yang pernah Riska ceritain. Keren banget, sekarang dia tinggal di Jepang,” kataku sambil menunjukkan akun Instagram seorang model.
“Hebat ya. Sudah nikah?” tanya ibuku.
“Hmm, gak tahu. Tapi kalau dilihat dari postingan Instagram-nya sih belum,” jawabku.
“Kenapa ya, perempuan-perempuan sekarang lebih banyak yang menunda menikah?” tanya ibuku lagi.
“Mah, tadi ketemu sama mamanya A?” tanya Cinta sepulang les Bahasa Inggris.
“Iya,” jawabku singkat.
“Terus ngobrol gak?” tanya Cinta lagi.
“Gak sih. Kan lagi ngeliatin adik dan teman-temannya tampil, jadi nggak bisa ngobrol. Kenapa memangnya?” aku mulai penasaran, kenapa Cinta bertanya soal mamanya A.