Tentang Olahraga Pelan-Pelan di Rumah

Refleksi seorang ibu tentang keinginan berolahraga di gym, izin suami, perubahan tubuh setelah menikah dan melahirkan, serta belajar merawat diri lewat olahraga pelan-pelan di rumah.

Ada wishlist kecil yang sejak lama kusimpan rapi di kepala, tapi belum juga kutandai sebagai “terlaksana”. Bukan karena terlalu mahal, bukan pula karena terlalu muluk. Wishlist itu sederhana: berolahraga di tempat gym.

Kenapa belum terlaksana? Karena sampai hari ini, aku belum mendapat izin dari suami.

“Silakan berolahraga,” katanya suatu hari ketika aku iseng meminta izin, “tapi yang bisa dikerjakan di rumah saja ya. Lari atau bersepeda boleh. Tapi kalau ke tempat gym, tidak dulu.”

Belajar merawat diri lewat olahraga pelan-pelan di rumah.
Lanjutkan membaca “Tentang Olahraga Pelan-Pelan di Rumah”

Pertanyaan Sederhana

Refleksi seorang ibu tentang pertanyaan sederhana di posyandu, makna di balik tumbuh kembang anak, dan belajar tidak terburu-buru menilai dari satu percakapan singkat.

Pertanyaan Sederhana di Posyandu | Refleksi Ibu tentang Tumbuh Kembang Anak

Ada pertanyaan-pertanyaan yang terdengar sederhana, tapi membuat kita berhenti sejenak—bukan karena tidak tahu jawabannya, melainkan karena tidak yakin sedang berada di percakapan yang mana.

Pertanyaan itu datang ke posyandu, di antara antrean, catatan tumbuh kembang, dan suara anak-anak kecil.

“Raisa sudah bisa apa, Bu?” tanya petugas kesehatan di hadapanku.

“Hah?” jawabku sambil mengernyitkan kening. Bukan. Bukan karena aku tidak mendengar. Aku hanya bingung harus menanggapi dengan cara seperti apa. Di kepalaku, tiba-tiba muncul jawaban absurd yang ingin sekali kulontarkan. 

Lanjutkan membaca “Pertanyaan Sederhana”

Saat Anak-Anak Berdamai

Refleksi seorang ibu tentang konflik kecil pertemanan anak, label “cengeng”, dan belajar mempercayai cara anak-anak berdamai dengan perasaannya.

Di dunia anak-anak, kata bestie bisa lahir pagi ini, lalu sore harinya terlupa karena sudah asyik bermain lagi. Yang sering kali tertinggal justru bukan marahnya, melainkan cerita yang berlapis-lapis di kepala orang dewasa.

Hari itu, aku menyadari kembali satu hal: anak-anak punya caranya sendiri untuk berdamai— dan tugas kita, orang tua, adalah tidak terburu-buru ikut ribut.

“Mama Cinta, mau telepon bisa nggak?”

“Mbak, aku lagi batuk. Jadi nggak bisa telepon. Chat aja nggak apa-apa ya?” jawabku.

“Enaknya sih lewat telepon, Mbak. Tapi nggak apa-apa,” balas Mama Nia.

Marahan kemudian berteman. Salah satu ritme dalam hubungan pertemanan di dunia anak-anak. Kita oeang dewasa, harus bijaksana menyikapiya.
Lanjutkan membaca “Saat Anak-Anak Berdamai”

Timun dan Jelita (Part 2): Tertawa, Bertahan, dan Mimpi yang Hampir Menyerah

Ulasan novel Timun dan Jelita Part 2, kisah band yang hampir menyerah, tawa yang menyembuhkan, dan mimpi yang diuji lewat perjalanan hidup para tokohnya.

Ada buku yang sejak awal sudah kita tunggu, lalu entah kenapa… justru terlupakan.

Timun dan Jelita Part 2 adalah salah satunya.

Beberapa kali masuk Gramedia, mataku selalu tertuju pada sampulnya. Gitar berwarna pink itu mencolok. Seolah memanggil, tapi selalu berhasil kuabaikan. Entah karena belum waktunya, atau karena aku sedang sibuk dengan bacaan lain.

Sampai suatu hari, saat aku masih larut membaca buku lain, novel ini tiba-tiba sudah terpajang rapi di Gramedia Plaza Balikpapan dan Gramedia MT Haryono.

Dan seperti biasa, muncul dialog batin yang klasik: Beli nggak ya?

Niatnya menunda. Tapi tangan ini terlalu cepat mengambil. Aku menyerah.

Lanjutkan membaca “Timun dan Jelita (Part 2): Tertawa, Bertahan, dan Mimpi yang Hampir Menyerah”

Menyeimbangkan Irama Pagi: Tentang Anak, Sekolah, dan Ekspektasi Ibu

Refleksi seorang ibu tentang pagi yang tergesa, ritme anak yang berbeda, dan belajar menurunkan ekspektasi agar hari dimulai dengan lebih sadar dan hangat.

“Ayooo, 10 menit lagi!”

ucapku dengan nada agak tinggi.

Setiap pagi, rasanya seperti sedang berada di camp militer. Semua harus bergerak cepat. Tidak boleh melambat. Tidak boleh lengah. Takut terlambat ke sekolah.

Padahal, aku sendiri tidak pernah ikut camp militer. Bahkan tidak benar-benar paham bagaimana rasanya. Semua bayanganku cuma berasal dari film-film saja.

“Ayo dong. Mama nggak mau balapan di jalan,” tambahku lagi.

Lucunya, aku tidak pernah berkendara lebih dari 40 km per jam. Jalan dari rumah ke sekolah pun padat. Dengan nyali sebesar kacang kenari, rasanya mustahil bagiku untuk ngebut-ngebutan. Tapi tetap saja, kata balapan itu selalu keluar hampir setiap pagi.

Jam berdetak, dan aku belajar tidak ikut berlari.
Lanjutkan membaca “Menyeimbangkan Irama Pagi: Tentang Anak, Sekolah, dan Ekspektasi Ibu”

Belajar Menerima Sedih dari Dalam Diri

Refleksi tentang sedih, emosi yang belum selesai, dan inner child—sebuah proses pelan untuk memberi izin pada diri sendiri agar merasa, menangis, dan berdamai.

Ada emosi yang tidak pernah benar-benar pergi.

Ia tinggal diam, menunggu diberi ruang.

Bukan untuk disingkirkan, bukan untuk dilawan — hanya untuk disadari, pelan-pelan.

Tulisan ini adalah bagian dari upaya kecil itu:

belajar mendengar emosi,

belajar berdamai dengan inner child yang belum selesai,

tanpa terburu-buru ingin sembuh.

Lanjutkan membaca “Belajar Menerima Sedih dari Dalam Diri”

Review Buku Broken Strings: Kisah Child Grooming yang Penting Dibaca Orang Dewasa

“Diam tidak selalu berarti menyerah. Kadang, diam adalah cara paling aman untuk menyusun strategi pergi.”

Broken Strings adalah salah satu buku yang tidak pernah kurencanakan untuk kubaca di awal tahun 2026. Kalau bukan karena kekuatan media sosial, mungkin aku tidak akan pernah tahu bahwa buku ini diterbitkan. Bahkan, kisah yang dituliskan Aurelie Moeremans ini sama sekali tidak pernah terbayang akan ada—apalagi dibagikan ke ruang publik.

Awalnya aku ragu untuk mulai membaca. Banyak komentar yang mengatakan tidak sanggup menyelesaikannya. Bahkan sejak halaman awal, penulis sudah memberi peringatan: jika merasa terpicu, pembaca disarankan berhenti dan memberi jeda. Peringatan itu justru membuatku semakin takut.

Broken Strings – Buku ini bukan untuk menghakimi, tapi untuk mengajak kita lebih peduli.
Lanjutkan membaca “Review Buku Broken Strings: Kisah Child Grooming yang Penting Dibaca Orang Dewasa”

Review Buku 3600 Detik: Teenlit yang Diam-Diam Menyentil Hati Seorang Ibu

“Di balik sikap memberontak seorang anak, sering kali tersembunyi kebutuhan sederhana: ingin didengar, dipilih, dan tetap dicintai.”

Siapa, sih, yang masih suka baca teenlit sampai sekarang?

Ya aku. Ha-ha.

Padahal, sejak duduk di bangku SMP aku sudah akrab dengan genre ini. Anehnya, meski usia bertambah dan status berubah—bahkan sekarang sudah punya tiga anak—kecintaanku pada teenlit masih bertahan. Mungkin karena teenlit selalu punya cara sederhana tapi jujur untuk membahas luka, kehilangan, dan proses tumbuh yang sering kali kita anggap sepele.

Kali ini aku membaca 3600 Detik karya Charon. Novel ini mengisahkan seorang gadis bernama Sandra, yang tanpa ia sadari sedang berdiri di tengah keluarga yang perlahan retak. Selama ini Sandra merasa hidupnya baik-baik saja. Ia memang tidak terlalu dekat dengan ibunya yang sibuk sebagai wanita karier, tapi hal itu tak pernah menjadi masalah besar baginya. Kehadiran ayah yang hangat dan dekat sudah cukup untuk mengisi ruang-ruang kosong dalam hidupnya. Bahkan ketidakhadiran ibunya di momen-momen penting pun tak pernah ia persoalkan.

Ebook 3600 Detik – Charon

Sampai semuanya runtuh sekaligus.

Lanjutkan membaca “Review Buku 3600 Detik: Teenlit yang Diam-Diam Menyentil Hati Seorang Ibu”

Liburan Tenang Bersama Keluarga di Deboekit Riverside Resort Balikpapan Timur

“Tempat yang baik tidak hanya memberi pemandangan indah, tapi juga rasa nyaman untuk berlama-lama.”

Menemukan Ruang Bersantai Tanpa Harus Keluar Kota

Kadang aku merasa, yang paling kami butuhkan sebagai keluarga bukan liburan jauh atau itinerary yang padat, tapi waktu untuk benar-benar berhenti sejenak. Duduk tanpa terburu-buru, mengobrol tanpa melihat jam, dan tidur tanpa alarm. Di tengah rutinitas harian, momen seperti itu terasa mewah.

Kami punya kebiasaan kecil saat harus ada tempat untuk (mancing) menenangkan pikiran, suasananya tidak terlalu ramai, dan setiap anggota keluarga bisa menikmati hobinya masing-masing. Ada yang bahagia cukup dengan memancing, ada yang senang berenang, ada juga yang hanya ingin rebahan sambil menikmati pemandangan. Sederhana, tapi itu yang kami cari.

Biasanya, untuk mendapatkan suasana seperti itu, kami memilih pergi sedikit lebih jauh ke luar Kota Balikpapan. Rasanya lebih “dapet” saja tenangnya. Apalagi aku yang sangat menikmati perjalanan darat. Tapi kali ini berbeda. Aku justru menemukan tempat yang mampu menghadirkan rasa liburan tanpa harus pergi jauh dari rumah. Liburan di Balikapan kali ini terasa beda.

Deboekit Riverside Resort di Balikpapan Timur memberi kejutan kecil buatku. Dari suasananya yang tenang, aliran Sungai Manggar yang mengalir pelan, sampai konsep wisatanya yang terasa ramah untuk keluarga. Tempat ini mengajarkan aku satu hal: ternyata, untuk merasa rehat, kita tidak selalu harus pergi jauh. Kadang, yang kita butuhkan hanya tempat yang tepat. Tempat yang tenang, tidak terlalu ramai, dan bisa mengakomodasi hobi masing-masing anggota keluarga.

Deboekit Riverside, resort di Balikpapan
Lanjutkan membaca “Liburan Tenang Bersama Keluarga di Deboekit Riverside Resort Balikpapan Timur”

Tanjakan Patah Hati – C.Samudera , Jika Saja Pagi Bertahan

Tentang cinta, takdir, dan waktu yang tak pernah benar-benar adil

Sebagai tim happy ending garis keras, aku sungguh kesal dengan akhir ceritanya. Bukan semata karena kisah ini tidak berakhir bahagia—tapi karena rasanya… MASIH BISA DILANJUTIN WOY! Serius. Tanganku gatal ingin nyeret penulisnya sambil bilang, “Ini belum selesaiii!”

Pagi Ayub Bahtera jatuh cinta pada seorang gadis bernama Chalanthee. Usia mereka terpaut tiga tahun—Pagi lebih muda. Bagi banyak orang, jarak itu saja sudah cukup untuk meragukan. Ditambah lagi, keduanya hidup dalam ikatan adat istiadat yang begitu kental, yang membuat hubungan ini terasa mustahil sejak awal. Seolah semesta sendiri berkata: jangan.

Tapi sebagai pembaca yang sudah terlanjur sayang, aku cuma bisa bilang: aku mau maksa. T_T

Lanjutkan membaca “Tanjakan Patah Hati – C.Samudera , Jika Saja Pagi Bertahan”