Sahur Pertama dan Antusiasme yang Menguji Sabar

Cerita sahur yang disambut dengan antusiasme anak, kesabaran ibu, dan belajar menahan emosi dalam satu rumah dengan beda generasi.

Ramadan selalu datang dengan cara yang berbeda setiap tahunnya. Kadang yang berubah adalah jadwal, kadang suasana hati, kadang justru anak-anak yang tiba-tiba terlihat lebih besar dari tahun sebelumnya. Dan di rumah ini, sahur pertama kali ini terasa sedikit lebih istimewa—bukan karena menu yang berbeda, tapi karena ada niat yang tumbuh di hati seorang anak.

Sahur pertama Ramadan kali ini ada yang berbeda. Rangga yang tahun-tahun sebelumnya hanya sanggup berpuasa setengah hari—yang kadang dilanjut, kadang tidak—kali ini berinisiatif untuk puasa penuh. Dulu-dulu sih, selalu aku, papah, dan neneknya yang mengingatkan, “ayo puasa.”

Lanjutkan membaca “Sahur Pertama dan Antusiasme yang Menguji Sabar”

Doraemon dan Nostalgia yang Tidak Pernah Usang

Dari bangun pagi demi Doraemon hingga menjadi ibu yang diam-diam membeli komik lagi. Sebuah nostalgia generasi 90-an yang tumbuh bersama anak.

Sebagai anak generasi 90-an, aku dan banyak anak lainnya tumbuh bersama Doraemon dan Nobita. Hari Minggu selalu terasa istimewa. Di hari sekolah, rasanya ingin sekali bangun siang. Tapi anehnya, ketika hari Minggu tiba, tubuh justru otomatis terbangun lebih pagi—hanya demi satu hal: menonton Doraemon dan kartun lainnya.

Aku termasuk beruntung. Tinggal di perumahan yang memiliki fasilitas perpustakaan kecil. Koleksinya memang tidak banyak, tetapi cukup beragam untuk membuatku betah berlama-lama di sana. Salah satu koleksi yang paling lengkap adalah komik Doraemon. Jika ada seri yang tidak tersedia, itu artinya sedang dipinjam anggota lain. Dan itu sering terjadi.

Sudah membaca komiknya, masih juga menonton animasinya? Tentu saja! Meski alurnya sama, sensasi membaca dan menonton tetap berbeda. Doraemon selalu terasa menyenangkan—hangat, lucu, sekaligus penuh pesan sederhana tentang persahabatan.

Anak 90-an mana suaranya? 🙋🏻‍♀️💙 Bangun pagi di hari Minggu demi Doraemon.
Lanjutkan membaca “Doraemon dan Nostalgia yang Tidak Pernah Usang”

Hari Ini Aku Ibu yang Baik, Besok? Kita Lihat Nanti

Refleksi seorang ibu tentang menerima pujian dari anak, mengelola emosi, dan berusaha menjadi lebih baik setiap hari—meski tak selalu sempurna.

Ada malam-malam yang terasa biasa saja. Tidak ada pencapaian besar. Tidak ada kejadian dramatis. Hanya rutinitas, suara anak-anak, dan kelelahan yang pelan-pelan turun bersama gelap. Tapi justru di malam seperti itulah, kadang datang kalimat yang membuat hati berhenti sejenak.

“Mah, mamah adalah yang terbaik,” kata Bunga menjelang tidur. Ia memberiku ciuman dan pelukan yang sangat erat.

Aku hampir saja menjawab dengan nada bercanda, “Ih, ada apa nih? Kok tiba-tiba muji-muji?” Untung kalimat itu tidak sempat keluar. Otakku cepat mengingatkan: terima saja. Jangan dicurigai. Jangan dipelintir. Anakmu sedang tulus.

Mengulang hari ini di kepala. Menerima yang kurang. Mensyukuri yang cukup.
Lanjutkan membaca “Hari Ini Aku Ibu yang Baik, Besok? Kita Lihat Nanti”

Balikpapan, Kota yang Tumbuh Bersama Kenangan

Refleksi tentang Balikpapan di usia ke-129—kota kelahiran yang tumbuh bersama kenangan, perubahan, dan harapan akan masa depan yang ramah anak dan pendidikan.

Setiap kota punya caranya sendiri untuk tinggal di ingatan.

Ada yang hadir lewat bangunan megah, ada yang melekat lewat hiruk-pikuknya.

Balikpapan memilih cara yang lebih tenang—ia tinggal lewat kenangan, kebiasaan kecil, dan rasa pulang yang tidak banyak menuntut penjelasan.

Di usianya yang ke-129, Balikpapan bukan sekadar kota kelahiran. Ia adalah ruang tempat aku belajar mencintai, mengenang, dan menumbuhkan harapan.

Lanjutkan membaca “Balikpapan, Kota yang Tumbuh Bersama Kenangan”

Ketika ChatGPT Menggambar Siapa Diriku

Refleksi tentang pengalaman mencoba fitur karikatur ChatGPT, jejak digital, dan bagaimana tulisan di Ruang Cerita membentuk gambaran diri—pelan, jujur, dan manusiawi.

Berawal dari melihat postingan seorang content creator bertuliskan,

“Create a caricature of me and my job based on everything you know about me” di ChatGPT.

Gambar yang dihasilkan terasa sangat merepresentasikan siapa mereka di media sosial selama ini. Mungkin hal seperti itu memang terasa mudah bagi ChatGPT. Ia hanya perlu mengumpulkan potongan-potongan informasi yang tersebar di dunia maya, lalu merangkainya menjadi satu gambaran utuh.

Lalu aku bertanya dalam hati, bagaimana dengan aku—yang minim postingan di media sosial?

Apa yang akan disajikan ChatGPT tentang diriku?

Oh… oh… oh. Ternyata aku pun tidak luput dari pantauannya.

Lanjutkan membaca “Ketika ChatGPT Menggambar Siapa Diriku”

Tentang Olahraga Pelan-Pelan di Rumah

Refleksi seorang ibu tentang keinginan berolahraga di gym, izin suami, perubahan tubuh setelah menikah dan melahirkan, serta belajar merawat diri lewat olahraga pelan-pelan di rumah.

Ada wishlist kecil yang sejak lama kusimpan rapi di kepala, tapi belum juga kutandai sebagai “terlaksana”. Bukan karena terlalu mahal, bukan pula karena terlalu muluk. Wishlist itu sederhana: berolahraga di tempat gym.

Kenapa belum terlaksana? Karena sampai hari ini, aku belum mendapat izin dari suami.

“Silakan berolahraga,” katanya suatu hari ketika aku iseng meminta izin, “tapi yang bisa dikerjakan di rumah saja ya. Lari atau bersepeda boleh. Tapi kalau ke tempat gym, tidak dulu.”

Belajar merawat diri lewat olahraga pelan-pelan di rumah.
Lanjutkan membaca “Tentang Olahraga Pelan-Pelan di Rumah”

Pertanyaan Sederhana

Refleksi seorang ibu tentang pertanyaan sederhana di posyandu, makna di balik tumbuh kembang anak, dan belajar tidak terburu-buru menilai dari satu percakapan singkat.

Pertanyaan Sederhana di Posyandu | Refleksi Ibu tentang Tumbuh Kembang Anak

Ada pertanyaan-pertanyaan yang terdengar sederhana, tapi membuat kita berhenti sejenak—bukan karena tidak tahu jawabannya, melainkan karena tidak yakin sedang berada di percakapan yang mana.

Pertanyaan itu datang ke posyandu, di antara antrean, catatan tumbuh kembang, dan suara anak-anak kecil.

“Raisa sudah bisa apa, Bu?” tanya petugas kesehatan di hadapanku.

“Hah?” jawabku sambil mengernyitkan kening. Bukan. Bukan karena aku tidak mendengar. Aku hanya bingung harus menanggapi dengan cara seperti apa. Di kepalaku, tiba-tiba muncul jawaban absurd yang ingin sekali kulontarkan. 

Lanjutkan membaca “Pertanyaan Sederhana”

Saat Anak-Anak Berdamai

Refleksi seorang ibu tentang konflik kecil pertemanan anak, label “cengeng”, dan belajar mempercayai cara anak-anak berdamai dengan perasaannya.

Di dunia anak-anak, kata bestie bisa lahir pagi ini, lalu sore harinya terlupa karena sudah asyik bermain lagi. Yang sering kali tertinggal justru bukan marahnya, melainkan cerita yang berlapis-lapis di kepala orang dewasa.

Hari itu, aku menyadari kembali satu hal: anak-anak punya caranya sendiri untuk berdamai— dan tugas kita, orang tua, adalah tidak terburu-buru ikut ribut.

“Mama Cinta, mau telepon bisa nggak?”

“Mbak, aku lagi batuk. Jadi nggak bisa telepon. Chat aja nggak apa-apa ya?” jawabku.

“Enaknya sih lewat telepon, Mbak. Tapi nggak apa-apa,” balas Mama Nia.

Marahan kemudian berteman. Salah satu ritme dalam hubungan pertemanan di dunia anak-anak. Kita oeang dewasa, harus bijaksana menyikapiya.
Lanjutkan membaca “Saat Anak-Anak Berdamai”

Timun dan Jelita (Part 2): Tertawa, Bertahan, dan Mimpi yang Hampir Menyerah

Ulasan novel Timun dan Jelita Part 2, kisah band yang hampir menyerah, tawa yang menyembuhkan, dan mimpi yang diuji lewat perjalanan hidup para tokohnya.

Ada buku yang sejak awal sudah kita tunggu, lalu entah kenapa… justru terlupakan.

Timun dan Jelita Part 2 adalah salah satunya.

Beberapa kali masuk Gramedia, mataku selalu tertuju pada sampulnya. Gitar berwarna pink itu mencolok. Seolah memanggil, tapi selalu berhasil kuabaikan. Entah karena belum waktunya, atau karena aku sedang sibuk dengan bacaan lain.

Sampai suatu hari, saat aku masih larut membaca buku lain, novel ini tiba-tiba sudah terpajang rapi di Gramedia Plaza Balikpapan dan Gramedia MT Haryono.

Dan seperti biasa, muncul dialog batin yang klasik: Beli nggak ya?

Niatnya menunda. Tapi tangan ini terlalu cepat mengambil. Aku menyerah.

Lanjutkan membaca “Timun dan Jelita (Part 2): Tertawa, Bertahan, dan Mimpi yang Hampir Menyerah”

Menyeimbangkan Irama Pagi: Tentang Anak, Sekolah, dan Ekspektasi Ibu

Refleksi seorang ibu tentang pagi yang tergesa, ritme anak yang berbeda, dan belajar menurunkan ekspektasi agar hari dimulai dengan lebih sadar dan hangat.

“Ayooo, 10 menit lagi!”

ucapku dengan nada agak tinggi.

Setiap pagi, rasanya seperti sedang berada di camp militer. Semua harus bergerak cepat. Tidak boleh melambat. Tidak boleh lengah. Takut terlambat ke sekolah.

Padahal, aku sendiri tidak pernah ikut camp militer. Bahkan tidak benar-benar paham bagaimana rasanya. Semua bayanganku cuma berasal dari film-film saja.

“Ayo dong. Mama nggak mau balapan di jalan,” tambahku lagi.

Lucunya, aku tidak pernah berkendara lebih dari 40 km per jam. Jalan dari rumah ke sekolah pun padat. Dengan nyali sebesar kacang kenari, rasanya mustahil bagiku untuk ngebut-ngebutan. Tapi tetap saja, kata balapan itu selalu keluar hampir setiap pagi.

Jam berdetak, dan aku belajar tidak ikut berlari.
Lanjutkan membaca “Menyeimbangkan Irama Pagi: Tentang Anak, Sekolah, dan Ekspektasi Ibu”