Catatan Kecil Sebelum Hari Ini Ditutup

Refleksi malam seorang ibu tentang lelah, amarah, penyesalan, dan usaha berdamai dengan diri sendiri sebelum hari ditutup pelan-pelan.

Malam datang tanpa banyak suara. Lampu-lampu sudah diredupkan, rumah mulai bernapas lebih pelan. Di sela kelelahan yang belum sepenuhnya pergi, ada keinginan sederhana: menutup hari ini dengan jujur. Bukan dengan rangkuman prestasi, bukan juga daftar hal yang belum tercapai—melainkan dengan mengakui apa yang benar-benar terasa di dalam dada.

Hari ini tidak istimewa, tapi juga tidak sepenuhnya biasa. Ada tawa kecil yang sempat muncul, ada lelah yang diam-diam menumpuk, ada perasaan yang tidak sempat diberi nama. Maka sebelum hari ini benar-benar ditutup, aku ingin meninggalkan satu catatan kecil. Sebagai penanda bahwa aku hadir, bertahan, dan mencoba mendengarkan diriku sendiri—meski hanya sebentar.

“Tidak semua hari perlu dirayakan. Beberapa cukup dicatat, lalu dilepas dengan pelan.”
Lanjutkan membaca “Catatan Kecil Sebelum Hari Ini Ditutup”

Tentang Olahraga Pelan-Pelan di Rumah

Refleksi seorang ibu tentang keinginan berolahraga di gym, izin suami, perubahan tubuh setelah menikah dan melahirkan, serta belajar merawat diri lewat olahraga pelan-pelan di rumah.

Ada wishlist kecil yang sejak lama kusimpan rapi di kepala, tapi belum juga kutandai sebagai “terlaksana”. Bukan karena terlalu mahal, bukan pula karena terlalu muluk. Wishlist itu sederhana: berolahraga di tempat gym.

Kenapa belum terlaksana? Karena sampai hari ini, aku belum mendapat izin dari suami.

“Silakan berolahraga,” katanya suatu hari ketika aku iseng meminta izin, “tapi yang bisa dikerjakan di rumah saja ya. Lari atau bersepeda boleh. Tapi kalau ke tempat gym, tidak dulu.”

Belajar merawat diri lewat olahraga pelan-pelan di rumah.
Lanjutkan membaca “Tentang Olahraga Pelan-Pelan di Rumah”

Pertanyaan Sederhana

Refleksi seorang ibu tentang pertanyaan sederhana di posyandu, makna di balik tumbuh kembang anak, dan belajar tidak terburu-buru menilai dari satu percakapan singkat.

Pertanyaan Sederhana di Posyandu | Refleksi Ibu tentang Tumbuh Kembang Anak

Ada pertanyaan-pertanyaan yang terdengar sederhana, tapi membuat kita berhenti sejenak—bukan karena tidak tahu jawabannya, melainkan karena tidak yakin sedang berada di percakapan yang mana.

Pertanyaan itu datang ke posyandu, di antara antrean, catatan tumbuh kembang, dan suara anak-anak kecil.

“Raisa sudah bisa apa, Bu?” tanya petugas kesehatan di hadapanku.

“Hah?” jawabku sambil mengernyitkan kening. Bukan. Bukan karena aku tidak mendengar. Aku hanya bingung harus menanggapi dengan cara seperti apa. Di kepalaku, tiba-tiba muncul jawaban absurd yang ingin sekali kulontarkan. 

Lanjutkan membaca “Pertanyaan Sederhana”

Saat Anak-Anak Berdamai

Refleksi seorang ibu tentang konflik kecil pertemanan anak, label “cengeng”, dan belajar mempercayai cara anak-anak berdamai dengan perasaannya.

Di dunia anak-anak, kata bestie bisa lahir pagi ini, lalu sore harinya terlupa karena sudah asyik bermain lagi. Yang sering kali tertinggal justru bukan marahnya, melainkan cerita yang berlapis-lapis di kepala orang dewasa.

Hari itu, aku menyadari kembali satu hal: anak-anak punya caranya sendiri untuk berdamai— dan tugas kita, orang tua, adalah tidak terburu-buru ikut ribut.

“Mama Cinta, mau telepon bisa nggak?”

“Mbak, aku lagi batuk. Jadi nggak bisa telepon. Chat aja nggak apa-apa ya?” jawabku.

“Enaknya sih lewat telepon, Mbak. Tapi nggak apa-apa,” balas Mama Nia.

Marahan kemudian berteman. Salah satu ritme dalam hubungan pertemanan di dunia anak-anak. Kita oeang dewasa, harus bijaksana menyikapiya.
Lanjutkan membaca “Saat Anak-Anak Berdamai”

Menyeimbangkan Irama Pagi: Tentang Anak, Sekolah, dan Ekspektasi Ibu

Refleksi seorang ibu tentang pagi yang tergesa, ritme anak yang berbeda, dan belajar menurunkan ekspektasi agar hari dimulai dengan lebih sadar dan hangat.

“Ayooo, 10 menit lagi!”

ucapku dengan nada agak tinggi.

Setiap pagi, rasanya seperti sedang berada di camp militer. Semua harus bergerak cepat. Tidak boleh melambat. Tidak boleh lengah. Takut terlambat ke sekolah.

Padahal, aku sendiri tidak pernah ikut camp militer. Bahkan tidak benar-benar paham bagaimana rasanya. Semua bayanganku cuma berasal dari film-film saja.

“Ayo dong. Mama nggak mau balapan di jalan,” tambahku lagi.

Lucunya, aku tidak pernah berkendara lebih dari 40 km per jam. Jalan dari rumah ke sekolah pun padat. Dengan nyali sebesar kacang kenari, rasanya mustahil bagiku untuk ngebut-ngebutan. Tapi tetap saja, kata balapan itu selalu keluar hampir setiap pagi.

Jam berdetak, dan aku belajar tidak ikut berlari.
Lanjutkan membaca “Menyeimbangkan Irama Pagi: Tentang Anak, Sekolah, dan Ekspektasi Ibu”

Belajar Menerima Sedih dari Dalam Diri

Refleksi tentang sedih, emosi yang belum selesai, dan inner child—sebuah proses pelan untuk memberi izin pada diri sendiri agar merasa, menangis, dan berdamai.

Ada emosi yang tidak pernah benar-benar pergi.

Ia tinggal diam, menunggu diberi ruang.

Bukan untuk disingkirkan, bukan untuk dilawan — hanya untuk disadari, pelan-pelan.

Tulisan ini adalah bagian dari upaya kecil itu:

belajar mendengar emosi,

belajar berdamai dengan inner child yang belum selesai,

tanpa terburu-buru ingin sembuh.

Lanjutkan membaca “Belajar Menerima Sedih dari Dalam Diri”

Kopi Susu Itu Tidak Salah, Hanya Bukan Punyaku

Cerita ringan tentang kopi susu gula aren, selera yang berbeda, dan pelajaran kecil untuk jujur pada diri sendiri—bahwa tidak semua yang disukai banyak orang harus kita pilih.

“Sayang, kakak bawa kopi t**u,” kata suami sambil membuka pintu kamar.

Ia baru pulang dari Surabaya dan kali ini buah tangannya bukan oleh-oleh khas kota, melainkan sebotol kopi susu. Ha-ha.

Bukan karena istrinya penggemar kopi susu gula aren. Justru sebaliknya. Kopi itu titipan teman-teman kantor, dan entah bagaimana, aku ikut kebagian.

“Udah di dalam kulkas,” tambahnya.

“Oh ya? T**u apa?” tanyaku.

Di kotaku, merek kopi itu belum punya gerai. Aku hanya sering melihatnya lalu-lalang di media sosial—ditenteng orang-orang yang pulang dinas, dititipkan dengan penuh harap pada keluarga yang sedang bepergian.

Kopi susu itu tidak salah. Rasanya juga tidak buruk. Hanya saja, bukan punyaku.
Lanjutkan membaca “Kopi Susu Itu Tidak Salah, Hanya Bukan Punyaku”

Ruang Sunyi di Dalam Diri

Sebuah refleksi tentang kecewa yang masih tinggal, kebutuhan untuk menyepi, dan harapan untuk kembali bahagia—pelan-pelan, dengan lebih jujur pada diri sendiri.

Setiap orang punya ruang sunyi di dalam dirinya.

Tempat yang jarang disentuh, tapi sering terasa.

Di sanalah perasaan-perasaan yang belum selesai berdiam—

kecewa, ragu, dan pertanyaan yang tak selalu berani diucapkan.

Lanjutkan membaca “Ruang Sunyi di Dalam Diri”

Saat Luka Bicara, Hati Belajar Sembuh

Kadang muncul pikiran yang sunyi: jika seseorang pergi selamanya, apakah ada yang benar-benar merasa kehilangan? Apakah ada yang menyesali hal-hal yang tak pernah terucap?

Menyembuhkan luka bukanlah proses yang cepat. Sebanyak apa pun cinta yang diberikan, trauma tidak serta-merta hilang. Ia membutuhkan waktu—dan kesabaran untuk merawatnya.

Sering muncul pertanyaan… apakah cinta itu masih ada? Apakah ketulusan itu nyata? Atau jangan-jangan semua hanya karena rasa takut kehilangan?

Lanjutkan membaca “Saat Luka Bicara, Hati Belajar Sembuh”

Satu Pertanyaan tentang OSIS, Seribu Kenangan yang Muncul

“Ada kalanya, momen paling sederhana justru menjadi pintu untuk cerita yang tak pernah kita duga.”

Terkadang, satu pertanyaan sederhana dari anak-anak bisa membuka pintu kenangan yang sudah lama tertutup rapat. Begitu pula pagi itu, saat Cinta dengan polosnya bertanya soal OSIS—pertanyaan kecil yang tiba-tiba menyeretku kembali ke masa sekolah, ke perpustakaan pengap tempat aku bersembunyi, dan ke mading-mading penuh cerita yang dulu kususun bersama sahabat-sahabatku.

Lanjutkan membaca “Satu Pertanyaan tentang OSIS, Seribu Kenangan yang Muncul”